TABOT WISATA

November 16, 2008

TABOT WISATA

(Agus Setiyanto)

Berbicara tentang tourist art (seni wisata), khususnya di Indonesia, Bali dan Yogya merupakan contoh yang paling menarik, karena sudah kondang sebagai gateway (pintu gerbang) nya arus wisatawan baik domestik maupun manca. Yogya punya maskot seni sendratari Ramayana Prambanan, dan Bali punya maskot Tari Cak (Kecak) dan Tari Barong. Ketiga maskot tersebut, semula adalah seni pertunjukan tradisional yang sifatnya total ritual. Tetapi, dalam perkembangannya, untuk menarik wisatawan, kemudian dikemas menjadi paket seni wisata (tourist art). Umumnya, alasan utama yang dipakai untuk membuat packaged (kemasan) seni wisata tersebut, dikaitkan dengan kebutuhan selera wisatawannya. Biasanya, kunjungan wisatawan ke suatu tempat wisata, ingin menikmati sebanyak-banyaknya sesuatu yang unik, menarik dalam waktu yang relatif singkat, dan murah (Kayam, 1981:179). Oleh sebab itu, diperlukan sebuah kemasan seni wisata yang mini, singkat, padat, dan penuh variatif. Bahkan Wayang Kulit di Jawa (Yogya) yang seharusnya dipentaskan semalam suntuk, kemudian dikemas secara padat menjadi dua jam, bahkan di Jawa Barat, wayang golek mampu disajikan dalam durasi 15 menit. Demikian juga dengan tari Cak dan tari Barong di Bali yang semula hanya dipertunjukkan pada waktu-waktu tertentu, kini bisa dinikmati setiap hari oleh wisatawan. Dan bentuk penyajian seninya tidak harus berupa karya cita baru, melainkan hasil reproduksi yang sudah ada (Soedarsono, 1986:5). Dengan disiapkannya paket seni wisata tersebut, maka wisatawan dapat menikmati kapan saja, tanpa harus kehilangan waktu untuk menunggu terlalu lama.

Nah, bagaimana dengan budaya Tabot Bengkulu ? Sudah siapkah seni pertunjukan Tabot Bengkulu dikemas menjadi Tabot tourist art ? Barangkali sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mungkin harus dijawab dulu pertanyaan yang satu ini, yaitu: sudah seberapa deras arus wisatawan yang masuk ke Bengkulu hingga sekarang ini ? Kalau memang Bengkulu sudah masuk dalam kategorisasi sebagai gateway-nya arus wisatawan, maka kebijakan untuk mengemas tourist art perlu segera dipertimbangkan. Sebab, tourist art ini merupakan alternatif yang tepat untuk memenuhi kebutuhan selera wisatawan.

Di samping itu, juga sangat diperlukan adanya kerjasama yang kompak di antara pihak-pihak yang terkait secara langsung dengan wisatawan, seperti pihak Dinas Pariwisata, pihak biro travel (ASITA), dan Hotel (PHRI), serta para senimannya. Dengan kata lain, harus ada sharing (pembagian keuntungan) yang didapat dari pihak wisatawan, seperti pihak biro travelnya yang memperleh keuntungan secara langsung melalui usahanya di bidang transportasi.

Pihak Dinas Pariwisata pun harus membina kerjasama dengan para seniman maupun budayawan dalam rangka memberdayakan obyek-obyek wisata yang dipasarkan agar mampu meningkatkan daya tarik bagi wisatawan.

Sebab, pariwisata itu merupakan sebuah industri, sedangkan produknya adalah seni budaya. Satu hal yang perlu dicermati adalah mengenai kebutuhan selera wisatawan yang relatif banyak. Kebutuhan menikmati pemandangan alam yang indah, melihat Museum, melihat bekas-bekas peninggalan sejarah, ingin bersantai dan berjemur di pantai yang nyaman, ingin menikmati seni pertunjukan rakyat, ingin membeli souvenir yang khas di art show (warung seni), ingin mendapatkan buku-buku literatur tentang cerita, sejarah dan budaya daerah setempat, menikmati makanan khas (wisata kuliner), dan lain-lain. Semuanya itu butuh perhatian dan penggarapan yang serius, agar wisatawan yang sudah berkunjung merasa puas dan memiliki kenangan yang mendalam.

Dan kenangan yang telah menjadi bagian dari slogan Bengkulu sebagai kota Semarak – kota Wisata itu, tidak sekedar terucap di bibir atau tercetak di kertas saja, tetapi benar-benar terpendam di lubuk hati khususnya para wisatawan..…SEKIAN!

Ikan Ikan

September 14, 2008

IKAN IKAN

Asslamu’alaikum, kami ucapkan

kepada Ibu Bapak , hadirin sekalian

Kami bermain harap didengarkan

salah dan khilaf mohon dimaafkan.

Awal mulo kami critokan, pasalnyo kami kaum nelayan

Setiok ari mencari ikan, menyongsong arus badai dan topan…(dst).

Demikian sepenggal syair lagu ikan-ikan yang hanya bisa kita dengarkan dan kita saksikan tiap setahun sekali – tepatnya pada event Festival Tabot yang dilaksanakan setiap tanggal 1 s/d 10 bulan Muharram.

Syair tersebut menggambarkan sebuah potret budaya kaum nelayan yang kesehariannya sangat dekat dengan ikan-ikan serta bergumul dengan lautan. Syair lagu ikan-ikan ini memang tidak diketahui siapa penulisnya– alias anonim. Artinya, lagu-ikan-ikan ini merupakan ciri khas produk kebudayaan rakyat – khususnya masyarakat nelayan yang sifatnya komunal. Produk budaya yang bersifat komunal pada umumnya memang tidak menonjolkan unsur personalitas, tetapi lebih mementingkan pada nilai kebersamaan. Karena memang produk budaya komunal ini menjadi bagian terpenting dari sebuah kearifan kultur lokal – local wisdom.

Sayang sekali, seni pertunjukan tradisional Ikan-ikan yang biasa digelar pada malam hari dengan cara berkeliling (door to door) pada tiap tahun menjelang malam Tabot ini sudah tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, ketika digelar pada acara lomba Ikan-ikan, pesertanya pun sudah mulai berkurang – alias menyusut.

Salah satu penyebabnya, adalah bahwa masyarakat pendukung – pemilik kebudayaan itu sendiri cenderung sudah mulai bergeser dan berpaling pada produk-produk kesenian lainnya yang dianggap lebih menarik. Memang ini juga akibat dari benturan budaya yang kian mengglobal. Dan diperparah lagi, dengan adanya paradigma pembangunan yang seringkali menyingkirkan produk-produk kearifan lokal yang dianggap sudah usang dan ketinggalan zaman.

Lalu apa yang musti dilakukan agar produk budaya lokal ini mampu bangkit kembali dan memberi kontribusi positif bagi pembangunan khususnya pembangunan budaya wisata di Bengkulu. Langkah pertama harus dimulai dengan sebuah kesadaran budaya sebagai pijakan untuk melakukan gerakan sadar budaya – gerakan peduli budaya lokal. Gerakan peduli budaya lokal (GeLiyaL) harus mampu melakukan revitalisasi terhadap produk-produk budaya lokal yang semakin terkikis oleh derapnya paradigma pembangunan yang cenderung materialistis – kapitalistis.

Sebagai bahan referensi, kita bisa belajar dari atraksi seni pertunjukan rakyat dari Sumatera Barat (Padang) yang disebut “Randai” . Masyarakat pendukung kebudayaan – kesenian Randai ini ternyata mampu melakukan revitalisasi. Alhasil, atraksi Randai tersebut menjadi tontonan menarik bagi wisatawan tiap malam minggunya di tepi pantai. Dan di sepanjang jalan pinggir pantai tersebut berderet warung yang menyajikan berbagai menu makanan.

Pertanyaan untuk pekerjaan rumah (PR) kita, mampukah seni pertunjukan rakyat yang disebut Ikan-Ikan ini digelar setiap malam minggu di sebuah tempat yang strategis seperti di Tapak Padri, Benteng Marlborough, Pasar Baru Koto, atau di perkampungan nelayan seperti di Kampung Cina, Pasar Pantai, Pasar Berkas, Pasar Baru, Pasar Malabero, Pondok Besi, Lempuing, dan lain-lain.

Lebih arif lagi, jika gerakan peduli budaya lokal dimulai dari masyarakatnya sendiri – khususnya masyarakat pendukung seni pertunjukan Ikan-Ikan – khususnya lagi kelompok-kelompok yang terlibat dalam produksi kesenian Ikan-Ikan ini melakukan gerakan berupa program kegiatan untuk menggelar atraksinya secara rutin pada setiap malam minggunya. Syukur-syukur, sambil menggelar atraksi, para nelayan juga bisa menjual berbagai produk ikan hasil tangkapannya dalam berbagai kemasan. Dan ini bisa berkembang menjadi areal wisata kuliner khusus ikan (bakar, panggang, pepes, gulai, dan lain-lain). kedepan. Tentunya diperlukan penataan –pengaturan – manajemen yang baik. Artinya, musti melibatkan pihak- pihak yang terkait dalam bingkai koordinasi – kerjasama yang sinerjis, seperti pihak Dinas pariwisata, Dinas Perdagangan, perindustrian, Dinas Tata Kota, Biro Travel Hotel (Arsita, PHRI), komunitas senimannya, kaum nelayannya, para pedagangnya, dan seterusnya. Jika program ini berjalan lancer dan berhasil, tentunya akan berdampak positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Bahkan tidak menutup kemungkinan, bisa jadi muncul kebijakan Pemkot untuk menggantikan patung Kuda yang terpampang di simpang lima, dengan patung seekor ikan khas Bengkulu – sebut saja ikan Selengek ! Bukankah Ikan Selengek ini sudah identik dengan kota Bengkulu ?

wallahu ‘alam bishowab !

Hello world!

September 14, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.